Lewat layar kaca (TV), media cetak, dan radio, mungkin juga lewat pengiriman pesan singkat telepon genggam, setiap hari sejak pagi hingga tengah malam, kita melihat, membaca, dan mendengarkan berita tentang musibah yang menimpa saudara-saudara sebangsa kita di berbagai kota dan daerah di tanah air. Terlalu panjang kata dan kalimat untuk mengurut kembali dari awal semua musibah yang telah melanda bangsa kita, walaupun akan diurut dari sejak awal pemerintahan SBY-JK. Apalagi jika mau mengurutnya dari masa pemerintahan sebelumnya.
Musibah seperti tanah longsor, banjir, dan yang sejenis dengan itu, tampak sebagai musibah alam biasa meski menelan korban jiwa manusia. Namun, jika diperiksa lebih cermat, ternyata musibah itu merupakan akibat dari perbuatan manusia sebelumnya. Misalnya, kerusakan hutan dan lingkungan hidup oleh tangan dan kebijakan yang dibuat oleh manusia sendiri. Kelangkaan minyak tanah yang kerap terjadi, demikian pula gas, tentu bukan disebabkan oleh alam, tapi pasti manusia. Kesulitan yang menjadi musibah bagi warga masyarakat semakin berganda-ganda oleh kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok warga. Begitu bertubi-tubinya musibah tersebut, sehingga bila terjadi suatu musibah, cara berpikir orang bisa kacau. Bukan berpikir bagaimana mengatasi secepatnya musibah tersebut, tetapi berpikir musibah apalagi berikutnya? Pikiran kacau demikian sangat mungkin disebabkan oleh kekecewaan yang amat dalam untuk menaruh harapan kepada elite yang ber”tangan” kuat dan punya kekuasaan yang diharapkan bertindak tegas dan jujur atas semua malapetaka yang membuat rakyat menderita. Namun, tidak! Ketika tumbuh harapan hukum akan berbicara tegas dan jujur karena seorang koruptor diadili, harapan itu pupus karena pengadilan memvonis bebas atau hukuman ringan terhadap koruptor tersebut. Ketika lahir keinginan untuk mau meneladani tentara dan polisi dengan paradigma baru keduanya, keinginan itu dirusak oleh perkelahian dan baku tembak antara tentara dan polisi kita. Tak beda dengan tawuran mahasiswa di kampus. Benarkah rakyat sedang susah, padahal mal-mal ramai dikunjungi oleh mereka? Atau sekadar mau merasakan sejuknya AC yang di rumah mereka merupakan sesuatu yang mustahil. Benarkah rakyat sedang susah, padahal berita dan acara selebriti yang di TV mempertontonkan yang mahal-mahal dan yang wah!? Atau menonton acara wah-wah itu merupakan sebuah pelarian dan kompensasi dari kenyataan hidup yang sesungguhnya yang sesak, kumuh, dan hina-dina? Benarkah rakyat susah, padahal ongkos keperluan sosialisasi dan kampanye pilkada, kata orang, sangat mahal. Kata orang, yang kalah pilkada kelak ada rasa sesal, kenapa uang itu tidak dipakai untuk ongkos memperbaiki sekolah yang rusak, atau buat ongkos sekolah anak-anak yang orangtua mereka miskin-miskin, atau memberi makan ratusan ribu orang yang tidak pernah merasakan makanan enak? Dalam kondisi bangsa demikian itu, masih bolehkah harapan ditaruh pada pundak pemerintah sekarang? Terserah kepada masing-masing. Jika Anda menilai pemerintah sekarang sanggup, bantulah sekuat kemampuan Anda. Jika Anda menilainya sudah tak ada harapan, maka Pemilu dan Pilkada-Pilkada di depan Anda memberi kesempatan kepada Anda untuk tidak lagi memilih mereka. M. Qasim Mathar |