|
Dalam pembicaraan yang umum menolong itu lebih diamanatkan kepada yang beruntung, pintar, cerdas, kaya , berkuasa dan semuanya yang seakan akan miliknya kaum yang bukan orang kebanyakan. Padahal pada kenyataannya orang miskin pun harus menolong, bagaimana jika meraka tidak puas dan mau menerima kenyataannya dan merasa bahwa nasibnya seperti sekarang ini karena diakali dan dihianati serta ditindas saja. Bagaimana jika mereka tidak mau tertib lagi dan tidak dapat lagi menerima kenyataan yang sekarang dihadapi?.
Komentar dari teman-teman soal Tolong-menolong 1.Farida Hanum 26 Februari jam 7:54 wah, kok profile pic's sampeyan kelihat lelah banget.... mikir bangsa ini memang melelahkan, karenanya dijalani saja hehehe. aku ingat cuplikan dalam Bumi manusia-nya Pram saat Miriam de la Croix menulis surat mengingatkan Minke (sampean baca buku itu juga kan?): "bangsamu yg pernah melahirkan beratus dan beribu pahlawan dan pemimpin dlm usaha menghalau penindasan Eropa, seorang demi seorang dari mereka jatuh, kalah, tewas, menyerah, gila, mati dalam kehinaan,...tak seorangpun pernah memenangkan perang...dg kelakuan para pembesarmu yg menjual konsesi pd kompeni utk kepentingan sendiri sbg pertanda kekroposan watak dan jiwa...." (BM hal. 187) sepertinya para pemimpin kita (atau setidaknya kita "terpaksa" anggap mereka pemimpin krn menduduki posisi itu) tdk pernah belajar dari sejarah. bahkan ketika mereka coba mengukir sejarahnya sendiri, wataknya g berubah... pertanyaanya adalah apa usaha kita? karena kita tidak hanya bisa mencermati dan mengomentari toh mas...seperti dikata alm. Gus dur, geudng senayan itu sudah berubah jadi sekolah TK... jadi kita tidak bisa sepenuhnya menaruh "mandat perubahan" di sana. Rakyat harus dipintarkan agar paham dan bisa membuat perubahan yg lebih baik. jadi begitulah mas bangsa ini....sulit diajak belajar mengingat sejarahnya dan terus mengulang kesalahan dan kebodohan... tapi sepanjang masih ada orang-orang yg mau berpikir untuk mendorongkan perubahan, kukira bangsa ini masih belum kehilangan harapan. rakyat di desa mas perlu dipahamkan, rakyat di kota perlu diingatkan agar tdk terlena modernisasi dan lupa membangun bangsanya agar tetap bermartabat! tabik! demi kebebasan! keadilan! dan kebenaran! 2.Chairul Achir mengomentari catatan Anda "kita sebagai sebuah bangsa jangan sampai terhempas kembali": "lihat aja pemimpin dan orang2 disekililingnya sekarang, adakah Bakat Tolong-menolongnya?" 3.Rudy Jaunt he..he..he,,,susah ya kang kalau sudah ...hati tdk jujur...makanya antara hati dan mulut serta tindakan semua bertolak belakang.....alias tdk sinkron yang ada cuma gambar uang saja..serta kursi tempat duduk..yang empuk....mudah2an saja nanti kalau mati nya tdk pada susah dan sekarat ya.... 4. Akbar Iskandar Dulu saya waktu mengaji di pesantren, diajarkan apa itu surga apa itu neraka. Pemahaman sederhana, Neraka itu penuh dengan siksaan yang berat, sedangkan surga itu penuh dengan kenikmatan. Nah untuk kasus CENTURYGATE Yang ada adalah SURGA. ya sudah Pak Beye Kasih surga saja tuch para politisi-politisi, bisa saja surga itu berbentuk jabatan Menteri, ... Lihat SelengkapnyaWakil Presiden dan Dirjen-Dirjen. Nerakanya saat ini, 70 orang meninggal karena longsor, banjir Jakarta yang menelan Kerugian baik materil maupun immateril, dan sebagainya. Seakan-akan Berlomba-lomba menuju neraka. Kesan saya, Bencana besar yang menelan korban jiwa tertutupi oleh sesuatu yang antahberantah tak berujung. Ya sudahlah Hidup Rakyat !!!! · Agus Susanto Hehehe.....Kang sama aja kaleee ....ahhh., kan raw material nya masih sama juga ("Orang Indonesia") Achmad Rifai saya koq cenderung melihat menguatnya 1) gejala feodalisme di satu sisi (pihak yg berkuasa) dan ini suatu kemunduran buat kira. 2) saya melihat problem etika moral di sisi yang lain (baik pihak yang tadinya mau dipermasalahkan maupun yang mempermasalahkan). kita pantas sedih melihat kenyataan ini. tapi saya tetap optimis, krn saya sangat mencintai negeri ini... Lihat Selengkapnya negeri ini, pendidikan dalam arti sebenarnya itu solusinya, terutama buat generasi yang lebih muda. barangkali evolutif, butuh waktu, tapi itu yang harus kita bayar. I do not think there is short cut method in this matter. Ihyarul Fahmi Kata Kuncinya, Sukses Demokrasi dengan Multipartai tapi juga sukses Demokrasinya dibidang ekonomi. Adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketika itu dianggap tidak merata, Rakyat banyak yang menganggur, banyak yang lapar, dan mati sendirian. tunggu saja saatnya, pasti meledak. Orang Lapar mudah diprovokasi tuk berbuat nekad. Hari ini jam 16:48 · Rudy Jaunt setuju buat bung IhyarulFahmi....disini kalau dinamit tinggal nunggu sumbu pemicunya saja kayaknya ya bung...... Persepsi Soal Tolong Menolong Dalam pembicaraan yang umum menolong itu lebih diamanatkan kepada yang beruntung, pintar, cerdas, kaya , berkuasa dan semuanya yang seakan akan miliknya kaum yang bukan orang kebanyakan. Padahal pada kenyataannya orang miskin pun harus menolong, bagaimana jika meraka tidak puas dan mau menerima kenyataannya dan merasa bahwa nasibnya seperti sekarang ini karena diakali dan dihianati serta ditindas saja. Bagaimana jika mereka tidak mau tertib lagi dan tidak dapat lagi menerima kenyataan yang sekarang dihadapi?. Bukan hanya penjara yang penuh tetapi pasti peradaban yang ada didepan kita semua ini akan rontok. Alasannya berapa peluru yang kuat ditembakan dan berapa banyak yang akan diexsekusi sampai titik tertentu tidak akan kuat melawan tsunami perlawanan ini. Pada sejarah di Indonesia sungguh beruntung walaupun sangat tragis karena yang dirontokan selalu adalah Pemerintah, pemerintahan dan kerajaannya karena insitusi itulah yang dipersepsikan menindas dan menjauhkan masyarakat dari keadilan. Bagaimana jika yang dijarah itu orang yang dianggap menindas dan kaya disekeliling perkampungan miskin?. Jika hal ini hanya terjadi disatu kampung, menanganinya masih bisa tetapi bagaimana jika diberbagai kampung?. Dan bagaimana jika terjadi dimana mana?. Sudah pasti tidak akan dapat ditangani dalam waktu singkat. Apakah ini bisa terjadi?. Sebaiknya jangan dianggap remeh karena ketika kenyataan hidup memperlihatkan bahwa tidak ada jalan lagi maka ini bukan pilihan tetapi terjadi dengan alasan akibat jalan buntu. Apakah hal ini terjadi hanya diIndonesia?. Sungguh tidak karena penjarahan ini awalnya justru terjadi pada daerah yang saat ini dianggap punya peradaban tinggi yaitu dibelahan bumi manapun yang pernah berdiri kekaisaran. Lihat ketika saling menjarah dilakukan pada masa lalu sebelum kekaisaran terbangun dan setelahnya daerah sekelilingnya lah yang dijarah dan dijadikan bagian dari kekaisaran. Afrika adalah contoh korban yang nyata akibat penjarahan ini dan sampai saat ini belum lagi dapat menolong dirinya sendiri. Begitu juga amerika latin, sebagian asia dll. Penjarahan ini juga ternyata terjadi pada berbagai peradaban “yang intinya” untuk kebutuhan membangun sebuah imperium. Imperium haruslah megah dan kaisar bisa bertahan jika tonggak tonggak kekuasaannya kuat, artinya sekelilingnya haruslah nyaman dan nikmat sehingga akan mempertahankan kekaisaran itu. Prinsip ini juga diterjemahkan kedalam kehidupan istana dimanapun dimuka bumi sehingga penguasa yang tinggal diistana harus memberikan kenikmatan kepada sekelilingnya supaya dapat tinggal lama diistana. Dengan pola inilah istana mempertahankan kekuasaan karena disisi lainnya siapapun yang menentang titah istana maka harus hilang ataupun kalau tetap hidup harus hidup dengan kesengsaraan yang luar biasa supaya menjadi comtoh jangan bertindak menentang istana. Pola ini sekarang sudah berubah karena kekuasaan dan kekuatan sudah menyebar sehingga sulit mengkonsolidasikannya dan waktu duduk diistana sangat terbatas terlebih lagi rakyat ikut menentukan penguasa yang tinggal diistana dengan memilihnya atau memilih orang lain. Hanya cilakanya bagi sebagian besar Imperium dan istana sering kali pilihan yang paling sering diambil adalah menindas rakyatnya demi kepentingan kelanggengan kekuasan dan kenikmatan kehidupan istana itu. Dan ketika pilihan ini diambil dalam jangka panjang sudah pasti rakyat kehidupannya tidak lagi ditolong penguasanya tetapi darah dan keringatnya dihisap untuk dijadikan energy kehidupan diistana dan tongak tanggaknya. Disinilah pokok persoalan mendasarnya. Dan dalam waktu tertentu kondisinya semakin tidak tertahankan maka pilihannya adalah melawan dengan berbagai cara dan lapangan inilah yang berbahaya jika sering terjadi terhadap sebuah bangsa. Saat ini semoga tidak terjadi. Dan sampai saat ini tidak terjadi maka ini adalah pertolongan dari orang orang yang tidak beruntung tersebut, apakah miskin, menganggur, kurang beruntung dll. Bagaimana bisa menahan lapar dan menahan diri akibat anaknya tidak bisa masuk sekolah dengan alasan bukan tidak lulus tes tetapi karena tidak ada biaya. Padahal pintar tetapi kurang beruntung. Sudah saatny orang miskin pintar bisa sekolah disekolah negeri manapun dan sekolah sampai universitas swasta menyediakan tempat min 5% s/d 10 % untuk orang miskin tapi luar biasa pintar. Hal ini demi kebaikan persatuan dan jangan ada kebanggaan berlebihan bahwa kaya itu bisa segalanya tetapi juga pintar dan cerdas juga dihargai supaya masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi masyarakat yang serakah. Begitu juga dirumah dan dikantor bukankah kita tidak akan bisa punya waktu lebih lega dan perasaan yang lebih tenang jika tidak dibantu oleh orang orang yang kurang beruntung itu. Katakanlah mereka dibayar, tetapi pada kenyataannya karena mereka ada itulah semakin banyak hal dapat dilakukan dan orang yang beruntung dapat menikmati waktunya. Ini namanya tolong menolong. Dengan penjelasan sangat sederhana diatas saja sudah nyata bahwa tolong menolong bukan hanya penting tetapi itulah pilihannya. Sama juga ketika penguasa tidak menolong hidup masyarakat maka masyarakat tidak akan menolongnya sehingga penguasa atau pemerintahan juga akan rontok atau paling tidak dilawan terus. Sedangkan jika dilakukan tolong menolong maka penguasa dan rakyatnya akan hidup pada orbitnya dan bisa saling meolong sambil mencapai tujuannya. Yang paling penting disini bahwa menolong itu bukan hanya dilakukan oleh yang kuat, berkuasa dan kaya saja tetapi yang sabar, ulet, dan hidup sederhana juga bisa menolong masyarakat lainnya termasuk yang dipersepsikan sebagai penolong saat ini. Silakan saja lihat jika mereka tidak mau juga memberikan pertolongan dengan lebih mensyukuri , sabar dan lebih keras berusaha maka keributan akan terjadi terus dimana mana. Tolong menolong pada berbagai bidang dan ini kebutuhan mendasar Sekarang kita lihat pada kehidupan yang lebih luas. Saat ini musibah bencana datang jauh lebih cepat dari perbaikan yang dilakukan. Artinya daerah yang terkena bencana ini belum pulih tetapi didaerah lain sudah terkena bencana alam lagi. Hal ini belum lagi termasuk anggota masyarakat yang terkena bencana lainnya. Apakah kecelakaan, sakit, kena narkoba dll. Semua ini membuat tekanan. Bahasa terangnya semakin hari dapat dipastikan masyarakat yang kehidupannya susah akibat terkena bencana ini akan semakin banyak. Dan hal ini terjadi akibat perbagai persoalan yang menekannya mulai dari iklim yang berubah, hutan yang habis, tanah yang tidak subur lagi, pergesesar lempeng didalam bumi, kemiskinan, pertarungan global sampai pertarungan ditingkat nasional. Jika tekanan ini tidak diresponse positif dengan gerakan tolong menolong maka yang terkena bencana bukan hanya merasa sendirian tetapi bisa sebaliknya merusak hal lainnya apakah alam sekitarnya atau melakukan kejahatan. Ini sudah pasti persoalan. Haiti sebagai sebuah Negara yang terkena bencana sungguh tepat menjadi contoh dan pada musibah itu masyarakat seluruh dunia melakuan bantuan. Dan bantuan masyarakat internasional ini juga nyata terlihat pada bencana tsunami di Aceh. Initinya masyarakat international saja konsen terhadap hal ini. Dalam konteks Haiti dan Aceh, jika kerusakan setelah bencana tidak direhabilitasi bersama sama maka kerusakan yang lebih luas akan terjadi didaerah itu dan kerusakan itu bisa menyebar kemana mana secara meluas dan ini sangat mungkin menimbulkan kerusakan dimana mana. Pengiriman TNI dan Polri serta aparatur Negara pada dearah bencana sungguh tepat jika pertolongan kepada korban bencana itu dilakukan secara sungguh sungguh. Pada proses penanganan bencana itu seluruh aparatur Negara akan bahu membahu dengan masyarakat apakah korban bencananya atau masyarakat lainnya yang ikut menangani kerusakan dan korban bencananya. Kebersamaan dan saling percaya akan tumbuh begitu juga rasa saling tolong menolongnya. Proses saling tolong menolongnya dalam kondisi normal 3 minggu saja sudah luar biasa apalagi jika setelah kembali kedaerah asal silaturahmi dan tolong menolongnya tetap dilanjutkan. Pada saat kehidupan mulai berjalan kembali korban bencana bisa bertanya kepada aparatur Negara yang pernah kekampungnya begitu juga aparatur Negara ketika punya tugas Negara ke daerah bekas bencana itu sudah punya kontak lain disamping kontak formalnya. Kondisi ini akan sangat membantu menyelesaikan berbagai persoalan. Dan ini adalah hikmah tolong menolong dibalik bencana yang terjadi. Coba analisa jika yang terjadi sebaliknya dimana pada kondisi terjadi bencana ini yang terjadi malahan saling memanfaatkan dan menipu maka hasilnya adalah kebencian dan dendam serta kehilangan kepercayaan. Melakukan operasi bantuan dalam rangka saling tolong menolong terhadap korban bencana sungguh keliru jika hanya dilakukan hanya oleh aparatur yang selama ini kita lihat termasuk para pegiat dibidang kesehatan. Pertolongan kepada korban bencana juga sangat disyukuri jika hanya memberikan dananya, makanan dan bantuan lainnya kepada korban bencananya tetapi yang lebih baik setiap pegawai pemerintahan yang sehat dan kuat diberikan tugas melakukan pertolongan kepada korban bencana dilokasi yang tidak membahayakannya, alasannya?. Ia akan merasakan kebersamaan, kemanusiaan dan mensyukurinya bahwa ia masih diberikan kesempatan hidup. Dengan pengalaman ia akan lebih sadar bahwa ia pun dapat kena musibah tiba tiba atau menjadi korban, tujuannya sederhana ketika siapa saja sadar bahwa ia bisa tiba tiba menjadi korban kehilangan nyawanya maka ia tidak akan menjadi penindas atau melakukan kejahatan minimum bebrapa saat setelah pengalaman itu, dan jika aparatur minimum setahun sekali dikirim kedaerah bencana maka kesadarannya akan panjang. Begitu juga para pengusaha dan petinggi perusahaan swasta mereka pantas dihargai dan diapresiasi dengan keiklasannya menyerahkan sebagian hartanya untuk membantu korban bencana tetapi pada kenyatannya seringkali dalam soal kepekaan social hal ini belum cukup. Dengan mereka dating kedaerah bencana dan merasakan bagaimana pedihnya kena bencana serta melihat keluarga korban bencana dan sekali lagi bencana itu bisa terkena kepadanya dan kepada keluarganya. Tidak ada seorang manusiapun kebal terhadap bencana dan kapanpun serta siapapun bisa kembali, hal ini akan berdampak luar biasa. Dalam membangun kesadaran. Oleh karenanya sungguh keliru ketika pejabat Negara dating ke daerah bencana setelah semuanya dibersihkan dan Cuma dilihar sisa dan bekasnya saja. Pejabat Negara bukan hanya harus dating melihat dalam rangka menunjukan simpati dan dukungan terhadap rehabilitasi korban bencana tetapi mereka harus merasakan betapa ngerinya terkena bencana dan pedihnya menjadi korban bencana serta ia pun tidak luput terhadap bencana yang dating secara tiba tiba dan bisa kena siapa saja. Orang orang yang zalim biasanya karena merasa bahwa semua kepedihan dalam kehidupan tidak akan sampai kepadanya dan keluarganya, dengan persepsi ini orang akan melakukan apa yang ia mau jika keserahannya menggelora. Apakah itu untuk kekuasaan atau kekayaan. Padahal persepsi bahwa yang berkuasa dan kaya tidak akan kena bencana adalah salah besar karena saat ini bencana bisa terjadi dimana dan kapanpun. Persoalannya apakah bencana alam atau bencana social dan bencana pribadi tetapi semuanya nyata bisa membuatnya berduka bahkan kehilangan kehidupannya.. Tolong menolong bukan alternative tetapi satu satunya jalan Saat ini kehidupan tolong menolong adalah sebuah kehidupan yang tidak bisa dihindari lagi jika masyarakat, bangsa dan Negara tidak ingin hancur. Kerusakan akibat bencana atas ulah tangan manusia sudah sedemikian parahnya dan bencana terus dating diberbagai belahan bumi ini. Yang panas kepanasan, yang dingin kedinginan, banjir, longsor, gempa bumi dll belum lagi penyakit dan kemiskinan sehingga manusia banyak mati dan kesusahan. Disisi lain kesulitan hidup itu bukan retorika, setelah USA tahun lalu ancur ancuran maka sekarang Eropa kesulitan dimulai dengan Yunani dan pemogokan di Jerman dan Peranscis. Sementara daerah konflik ditimur tengah sampai Pakistan juga tidak mereda. Walaupun begitu konflik Venezuela dan Kolombia masih dalam sebatas kata kata dan belum meledak menjadi konflik bersenjata. Hanya kondisi panas seperti ini juga ternyata terjadi diberbagai belahan Afrika. Bencana alam, kemiskinan, kesulitan ekonomi dan konflik konflik ini tidak akan selesai jika penyelesaiannya menggunakan senjata dan kekerasan termasuk juga kekuatan. Perang di Irak dan Afghanistan sudah terbukti menguras keuangan beberapa Negara sehingga mereka pada saat ini mengalami kesulitan ekonomi dan ini belum lagi jika bencana juga datang ke Negara Negara tersebut. Jika kondisi ini diturunkan kepada situasi di Indonesia maka tekanan global itu makin akan menekan kondisi dalam negeri yang sudah mengalami tekanan tinggi. Manusia saat ini yang meninggal dijalan raya semakin banyak karena tabrakan dan ditabrak. Orang akibat tekanan kehidupan menjadi stress dan tertekan sehingga kehidupannya tidak normal begitu juga yang meninggal tiba tiba akibat tekanan yang sudah tidak tertahankan dalam kehidupannya. Dengan kondisi ini maka situasi di Indonesia saat ini tidak lagi hanya ditentukan elite tetapi masyarakat biasa sebagai silent majority yang selalu bertindak ketika situasinya sudah keterlaluan akan selalu mendobrak kebuntuan kebuntuan yang ada saat ini. Kasus prita, cicak dan buaya serta kasus kasus pertolongan kepada korban yang terkena bencana dll termasuk revolusi setengah hati pada tahun 98 ( Yang disebut Reformasi) juga kalaupun waktu itu elit tidak cepat bergerak maka revolusi beneran yang terjadi tidak reformasi lagi. Nach saat ini tidak ada yang mengkondisikan Revolusi tetapi kasus kasus yang di by pass masyarakat sudah membuktikan bahwa itu revolusi terbatas dan fokus kepada penyelesaian persoalan, apakah bantuan, tekanan atau kumpul uang. Dengan kondisi seperti ini dalam pikiran saya tidak ada pilihan lain selain mengembangkan gerakan tolong menolong dan emphatic sehinga situasinya menjadi sehat kembali dan masyarakat punya alternative memilih kehidupannya. Baru saja 5 bulan pelantikan Presiden kok sudah panas lagi begini. Ternyata yang diresakan elite politik sangat berbeda dengan yang dirasakan masyarakat walaupun sungguh sehat jika semua nya bersaing sehat menuju 2014 walaupun masyarakat saat ini lebih mengharapkan tindakan nyata yang dapat memperbaiki kehidupannya. Pilihan mempertahankan Rejim sampai pemimpinnya berhenti karena wafat sepertinya saat ini dindonesia hanya dengan membumkam serapat rapatnya dan melenyapkan siapapun yang menghalanginya serta harus punya logistic serta dukungan yang sangat kuat sehingga masyarakat punya pilihan memang harus begitu. Apakah dengan kesejahteraan yang luar biasa meningkat atau dengan peluru yang berhamburan dari laras senjata ditambah semburan senjata lainnya., itupun kalau berhasil. Artinya ini bukan pilihan mudah karena pasti yang melawan akan sangat luas. Dan kalau gagal mempertahankan rejim dengan cara begini maka gentian pemimpinnya yang akan dihukum masyarakat melalui pengadilan rakyat atau hanya terguling saja. Apalagi bencana alam juga terus terjadi sehingga panasnya suhu politik akan sangat mudah meningkat. Dengan kondisi ini maka pilihannya adalah melakukan pemerintahan dengan solid sekaligus mempersiapkan turun dan diganti dengan pemimpin yang bisa melanjutkan kesinambungan kepemimpinannya. Dengan harapan bangsa Indonesia tidak kembali terhempas ke titik Nol lagi. Dalam kontek perubahan kekuasaan saya teringat, ketika didalam istana Negara bersama alm pak Dur, mas Haryadi, mas bagus dan beberapa anggota kabinetnya alm Pak Dur ketika itu. Ketika saya Tanya , pak Dur apakah gerakan sidang istimewa di MPR akan dilawan….? Jawabannya Beliau jangan menumpahkan darah karena berebut kekuasaan. Mereka yang bersidang di MPR saat ini merasa yakin bahwa jalannya merekalah yang benar padahal kebenaran itu milik allah SWT. Apakah karena kemanusiaan inilah pak Dur akhirnya terguling karena beliau juga menahan lajunya para pendukungnya dari jawa timur dengan menugaskan tim kecilnya. Tetapi pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa jangan mencoba memasuki gelanggang dimana darah ditumpahkan adalah pelajaran yang sangat berharga dan mahal karena jika itu terjadi maka akan panjang dan mengorbankan banyak hal. Saat ini ketua MPR Taufik Kiemas sangat bijak ketika mengatakan bahwa menumbangkan pemerintahan hanya akan memberikan kepedihan dan biaya yang mahal sekali…., Hanya disisi lainnya tidak ada pilhannya bahwa masyarakat harus segera ditolong dan jangan dibiarkan menghadapi nasibnya yang getir dan papa. Dan jika pilihannya menjaga kedamaian dan persatuan maka tidak ada pilihan lain dengan melakukan gerakan tolong menolong disegala segi secara bersama sama supaya kondisi nasionalnya segera membaik. Oleh karenanya gerakan tolong menolong dalam menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia ini jangan dilihat sebagai alternative pilihan atau basa basi tetapi tidak ada pilihan lainnya. Jika masih punya alternative lainnya mari kita dialektikakan hanya saya kira dengan tetap mempertahankan politik hanya untuk kepentingan politik akan segera berakhir. Bagaimana menurut anda? Sudah berapa banyak orang yang anda tolong langsung semoga semakin hari semakin banyak yang bisa ditolong sehingga kita semua tertolong dan bangsa Indonesia semakin baik semakin hari. Bisa kah anda ketika berkuasa merasa tidak bersalah dan mengatakan bahwa : - ia meninggal memang sudah takdirnya akibat kecelakaan dijalan padahal yang menabrak jelas lagi stress akibat anak nya tidak bisa bayar sekolah dan istrinya sakit.
- ia meninggal karena sakitnya parah, padahal seharusnya ia berobat dari saat sebelumnya tetapi rumah sakit menolaknya akibat miskin.
- Ya memang jika usaha anda tidak kompetitif pantas saja bangkrut padahal perdagangan dalam negeri dibiarkan telanjang bulat dan keberpihakannya tidak ada sama sekali.
- Salahnya sendiri bunuh diri padahal dilarang agama padahal ia benar benar sudah tidak tahan lagi terhadap penyakit yang dideritanya.
- Kita memang kesulitan menangani bencana alam ini sehingga korban yang belum tertangani semoga akan dibantu masyarakat juga..dan banyak yang hidupnya setelahnya berantakan.
- TKW dan TKI yang pada mati dan masuk penjara dinegara asing memang itu salahnya sendiri karena tidak memenuhi ketentuan disana ( padahal kalau tidak miskin pasti tidak berangkat utk yang sector informal).
- Para pejabat yang pada masuk penjara akibat korupsi itu memang konsekuensi logis akibat perbuatannya dimasa lalu ( padahal kenyataannya zaman itu memang begitu rata ratanya, apakah memenuhi penjara dengan kesalahan masa lalu dengan tetap membiarkan korupsi saat ini atau mengembalikan dana yang dikorupsi masa lalu dan menghentikan korupsi dimasa kini)
- Pengusaha dan pejabat yang menyimpan uangnya diluar negeri dan tidak mempertimbangkan perekonomian didalam negeri adalah sebagai hak individualnya
- Jangan salahkan siapa siapa jika anda meganggur, miskin dan punya hidup kurang beruntung
Saya kira tidak ada pejabat Negara yang mengatakan hal ini. Atau sejenis dengan perkataan ini karena jika dikatakan hampir pasti resiko baliknya akan segera dirasakan. Sama bagi orang biasa yang mengatakan bahwa mencari duit harap saja susah apalagi duit halal….ini kondisi berbahaya. Ia tidak tahu bahwa contoh bahwa uang haram hanya akan menghancurkan keluarganya jika dibawa kerumah begitu kekuasaan yang dipakai menzalimi dan menindas orang banyak akan dihukum oleh allah swt. Kalau tidak percaya hukum Tuhan maka jangan hidup di Indonesia karena sila pertamanya ketuhanan yang maha Esa sehingga ini harus menjadi acuan dan soal pancasila masih menjadi cita cita yang harus dilaksanakan hal ini adalah soal bangsa Indonesia. Oleh karenanya sekali lagi lakukanlah tolong menolong itu berdasarkan keimanan dan kemanusiaan sehingga akan mendatangkan kebaikan. Jakarta 27 February 2010 Salam Agus Muldya Natakusumah IndoSolution |